TUGAS
|
:
|
UJIAN AKHIR SEMESTER
|
NAMA
|
:
|
JESICA
ESTERLITA S. N.
|
NIM
/ KELAS
|
:
|
201721986
/ ADH 5-B
|
MATA
KULIAH
|
:
|
PEP (PEMASARAN)
|
DOSEN
PENGAMPU
|
:
|
WIENTOR RAHMADA
|
Industri perhotelan adalah salah
satu contoh industri jasa yang secara produknya mempunyai empat karakteristik
sebagai berikut :
1.
Intangibility
Apa yang dimaksud dengan intangibility? Jelaskan mengapa produk
hotel masuk di dalam kategori ini!
2.
Perishability
Sebutkan minimal tiga hal yang berkaitan dengan strategi memaksimalkan revenue
yang harus dilakukan oleh hotel berkaitan dengan karakteristik berikut!
3.
Variability
Jelaskan konsepnya dan apa yang harus dilakukan oleh hotel untuk mengatasi
karakteristik yang ini!
4.
Inseparability
Karakteristik ini menegaskan bahwa produk jasa dikonsumsi dan diproduksi
pada saat yang bersamaan. Sebutkan tiga strategi yang bisa dilakukan oleh hotel
dikarenakan karakteristik inseparability!
Ada berbagai konsep
tentang level of products dari berbagai buku, yang paling sederhana, level
of products dibagi menjadi tiga ialah core, actual, dan augmented.
5.
Mengapa sebuah produk harus mempunyai konsep level
of products seperti disebut di atas?
6.
Bisakah konsep level of products tersebut
diimplementasikan ke dalam sebuah produk jasa? Berikan satu buah contoh produk
jasa dan breakdown atributnya berdasarkan tiga level seperti yang telah
disebutkan di atas!
UJIAN AKHIR
SEMESTER GANJIL 2019
FOUR
CHARACTERISTICS OF SERVICES
Menurut Philip
Kotler, industri jasa memiliki empat karakteristik unik yang tentunya berbeda
dengan sifat industri barang. Industri perhotelan adalah salah satu contoh
industri jasa yang secara produknya mempunyai empat karakteristik tersebut, di
antaranya :
1. Intangibility
(Tidak Berwujud)
Jasa
tidak dapat dilihat dan dipegang secara fisik, tetapi dapat dirasakan.
Karakteristik intangibility adalah suatu hal yang sangat penting dalam
beberapa hal karena sebagian besar jasa sangat mahal, dalam arti jasa tidak
dapat dengan mudah diukur, dilihat, dan disentuh pada suatu titik penjualan
sebelum terlihat pada performa kerja dari jasa itu sendiri.
Pada
dasarnya, industri hotel menawarkan dua produk dengan sifat yang berbeda di
antaranya adalah karakteristik tangible dan intangibility. Kualitas
pelayanan di hotel memiliki kedua sifat dasar tersebut yang berarti produk
hotel merupakan perpaduan dari beberapa elemen yang tidak sejenis untuk
mendukung performanya.Hotel merupakan salah satu industri yang bergerak di
bidang jasa, dapat dikatakan memiliki karakteristik intangibility yang
berarti hotel menawarkan jasanya disertai dengan pelayanan.
Beberapa
ciri akan munculnya karakter intangibility ditandai dengan adannya
beberapa contoh aspek sebagai berikut :
a. Staf hotel
menunjukkan adanya upaya yang tulus dalam menyelesaikan suatu masalah dengan
tamu berkaitan dengan keluhan.
b. Staf hotel yang
sangat ramah dan sopan terhadap tamu dalam melayani.
c. Hotel menyediakan
keamanan yang utuh bagi para tamu.
2. Perishability
(Tidak Dapat Bertahan Lama)
Jasa
sebagai suatu bentuk yang tidak dapat disimpan lama mengikuti sifatnya yang
tidak berwujud secara fisik, tentunya dapat membawa dampak yang negatif pula
apabila permintaan tetap stabil karena mudah untuk melakukan persiapan
sebelumnya. Untuk itu, beberapa strategi untuk memaksimalkan revenue
yang harus dilakukan oleh hotel berkaitan dengan karakteristik tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Dynamic pricing
Sistem
penetapan harga melalui dynamic pricing. Dynamic pricing dapat
diartikan sebagai a real time strategi penetapan harga yang di mana
hotel menentukannya berdasarkan pada harga kamar atau pada permintaan harga
pasar pada saat ini.
Adapun
beberapa komponen yang memengaruhi dynamic pricing adalah harga kamar,
tingkat belanja pada pasar, permintaan pasar, price hurdle, Online
Travel Agent, dan room inventory.
Sistem
dynamic pricing juga menetapkan sistem reservasi yang biasanya, harga
akan fluktuatif tergantung dengan waktu tertentu. Sebagai contoh, harga yang
ditawarkan beberapa bulan atau minggu sebelum mendekati libur hari besar
keagamaan, tentunya akan berbeda dengan harga yang diitawarkan menjelang hari
perayaan tersebut.
b. Economical pricing
Menerpakan
economical pricing dalam suatu periode tertentu sebagai bagian dari types
of pricing strategies. Prinsip yang diterapkan oleh economocal pricing adalah
memiliki nilai margin atau garis batas keuntungan yang kecil, tetapi
memiliki volume penjualan yang cukup besar.
Economical pricing biasa diterapkan
pada sistem kerja e-commerce dengan mengambil profit yang sedikit tetapi
memiliki volume penjualan yang besar. Hal ini biasanya didasari dari sebuah
prinsip algortima dari suatu sistem pencarian yang ada. Salah satu contoh e-commerce
yang menerapkan startegi in adalah Amazon.
c. Excellence Service
through Guest Oriented
Memiliki
karakteristik yang tidak dapat bertahan lama dan tidak dapat disimpan, jasa
sudah seharusnya menunjukkan dirinya dalam bentuk pengembangan kualitas yang
semakin baik hari ke hari. Dengan membentuk suatu standar pelayanan yang baik
dan diperbarui secara berkala serta mengikuti perkembangan tren, strategi ini
dianggap dapat memenuhi kebutuhan tamu secara kedekatan emosional dan
psikologis.
Hotel
sebagai penyedia jasa tentu dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik
bagi para tamu, tekhusus pada tamu first-timer stay. Hal ini bukan tanpa
alasan, tamu yang tergolong sebagai first-timer stay tentu lebih rentan
dan sensitif terhadap pelayanan hotel yang ditawarkan. Dengan memberikan
layanan terbaik yang mengacu pada standarnya, tamu secara tak langsung telah
terlibat dalam proses pembentukan harga. Artinya, tamu dalam hal ini telah
‘menetapkan’ harga suatu hotel berdasarkan dengan standar pelayanan yang
ditawarkan. Tamu yang terlibat sangat aktif dalam mendapatkan harga, didukung
dengan berdasarkan pengalaman yang diperoleh, tentunya akan lebih aktif untuk
membagikan informasi terhadap orang lain. Tamu tersebut, tentunya memiliki
kecenderungan untuk melakukan booking secara berkala.
Hal
ini tentunya membawa keuntungan tersendiri bagi hotel. Selain dapat menentuka
segmen pasar beserta harga, hotel dapat dengan mudah mendapatkan revenue dari
repeater guest, seperti yang dijelaskan di atas.
3. Variability
(Keragaman)
Secara harfiah, keragaman berarti bahwa setiap jasa,
dalam hal ini adalah layanan, menunjukkan sesuatu yang berbeda kepada setiap
tamu. Hal ini dikarenakan industri hotel ialah tentang bagaimana satu orang
melayani orang yang lainnya (person serves person), yang berarti manusia
bukan mesin dan oada hakikatnya bentuk jasa dapat berubah-ubah atau dinamis.
Dengan demikian, output atau penerimaan yang didapatkan dari setiap
orang pun juga akan berbeda, baik itu dapat berupa output positif maupun
negatif. Untuk mengatasi hal tersebut, hotel daoat melakukan beberapa cara
dalam mengatasi karakteristik ini, di antaranya :
a. Standard of
Excellence Service through Guest Oriented
Hal ini dapat dilakukan dengan cara membentuk
suatu standar yang menggeneralisasi suatu bentuk pelayanan, agar tidak terjadi
suatu kesenjangan yang signifikan.
b. Mengadakan Training
atau Pelatihan Secara Berkala
Inseparability erat kaitannya
dengan jasa yang akan diproduksi oleh manusia dengan tujuan melayani. Untuk itu,
diperlukan suatu pelatihan atau training khusus secara berkala dalam
rangka untuk meningkatkan serta menjamin suatu mutu layanan. Di samping itu, guna
dari training itu sendiri adalah untuk menyamakan Standard Operasional
Prosedur dari suatu operasional.
c. Loyalty Program
Dewasa ini, sudah semakin banyak loyalty
program yang ditawarkan oleh berbagai macam brand hotel. Loyalty
program semata-mata dibentuk tidak hanya untuk mendapatkan repeater
guest tetapi dari sisi tau itu sendiri adalah untuk mendapatkan keuntungan (benefits) baik dari produk tangible maupun intangible.
Artinya,
karakteristik dari variability juga dapat ditangani dengan adanya loyalty
program yang menimbulkan berbagai macam benefits bagi tamu sesuai
dengan kelasnya. Hal ini tidak bertujuan untuk diskriminasi atau pembedaan,
tetapi untuk mengukur standar kualitas suatu hotel secara tidak langsung. Tentunya
dengan kehadiran loyalty program, tidak selalu mengedepankan perbedaan
perlakuan atau treatment layanan terhadap tamu tanpa mementingkan standar
service seperti yang terlah disebutkna di atas.
4. Inseparability
Karakter
inseparability menegaskan bahwa jasa diproduksi dan dikonsumsi di saat
yang bersamaan, itulah mengapa pada hal ini tidak terdapat proses transfer
kepemilikan. Begitu pula dengan kedua proses tersebut adalah sesuatu yang tidak
dapat dipisahkan.
Berikut
akan dijabarkan mengenai strategi yang dapat dilakukan oleh hotel melalui
karakteristik inseparability yang juga dapat dilakukan oleh hotel:
a. Menyediakan
Pelayanan Terbaik melalui Tata Letak yang Menunjukkan Hospitality
Karakteristik inseparability yang
menerangkan bahwa kegiatan produksi dan konsumsi pada bidang jasa dikonsumsi
dalam waktu yang bersamaan, membuat hotel harus memerhatikan lebih detil lagi
ke pada bidang tata letak suatu barang.
Seperti
contoh, tamu tidak dapat membawa kamar hotel secara fisik dan kemudian membawanya
pulang. Untuk itu, diperlukan pelayanan melalui departemen housekeeping
yang dapat menata letak segala sesuatunya dengan apik sehingga dapat memudahkan
tamu untuk menggunakannya.
Demikian
pula yang terjadi pada saat breakfast buffet yang sehari-harinya
berlangsung di sebuah hotel. Peletakkan food tag yang disertai dengan
ciri khas atau sign tertentu, juga menunjukkan salah satu bagian dari hospitality
yang memudahkan para tamu untuk memilih makanan apa yang akan dikonsumsi.
b. Dapat Menangani
Keluhan dan Memberikan Informasi pada Tamu
Hal ini termasuk ke dalam
karakteristik inseparability yang di mana, ketika tamu menghadapi suatu
masalah dan memerlukan solusinya, terjadi sebuah proses produksi yang dilakukan
oleh pihak penyedia jasa. Setelah proses ‘produksi’ ini dicerna, tahap
berikutnya yaitu konsumsi, di mana pihak penyedia jasa pula lah yang dapat
menyediakan jasanya untuk menangani keluhan tersebut berikut dengan informasi
yan dibutuhkan oleh tamu.
Dengan
demikian, diperlukan suatu tenaga profesional di bidangnya untuk dapat menangani
hal seperti ini sebagai bentuk upaya tindakan preventif akan hal-hal yang tidak
terduga atau yang tidak diinginkan.
c. Mengadakan Training
atau Pelatihan Secara Berkala
Inseparability erat kaitannya
dengan jasa yang akan diproduksi oleh manusia dengan tujuan melayani. Untuk itu,
diperlukan suatu pelatihan atau training khusus secara berkala dalam
rangka untuk meningkatkan serta menjamin suatu mutu layanan.
THREE LEVEL OF PRODUCTS
5. Alasan mengapa sebuah
produk harus mempunyai konsep level of products adalah seorang pemasar
yang baik ialah pemasar yang dapat membuat produk itu mennjadi amat sangat
bagus dengan membagi produk menjadi beberapa tingkatan melalui analisis produk
pada tingkatan yang berbeda-beda pula. Seorang pemasar yang baik juga ialah yang
memiliki pemahaman yang baik tentang desain suatu produk, bagaimana desain itu
dapat memenuhi kebutuhan pasar, dan bagaimana hal tersebut dapat didukung,
dibedakan, dan diterima secara jelas di pasar.
6. Konsep level of
products tersebut tentu dapat diimplementasikan ke dalam sebuah produk jasa.
Salah satu contoh produk jasa yang akan diambil adalah jasa transportasi daring
yang bergerak dalam jasa layanan pesan antar makanan dari sebuah perusahaan karya
anak bangsa yaitu Gojek dalam fitur GoFood. Berikut breakdown
atributnya berdasarkan tiga level seperti yang telah disebutkan di atas!
a. Core Value
Dasar daripada layanan GoFood
itu sendiri adalah jasa layanan pesan antar makanan itu sendiri ialah untuk
memudahkan pengguna, dalam hal ini konsumen, untuk dapat memesan makanan
melalui aplikasi Gojek secara praktis dan instan. Makanan yang
telah dipesan kemudian akan diantarkan oleh driver yang mengambil pesanan
anda melalui aplikasi. Pada intinya, aplikasi Gojek memudahkan pengguna
dengan konsep one-stop application.
b. Actual Product
Pada level ini, GoFood sudah semakin
memudahkan para pengguna aplikasinya dengan menampilkan fitur apik yang dibalut
dengan pengemasan menarik. Berikut merupakan penerapan actual product level yang
ada dala GoFood, di antaranya :
Branding GoFood semakin meningkat
dari waktu ke waktu mengikuti banyaknya jumlah restoran yang menggunakan jasa
ini, berikut mengikuti banyaknya jumlah pengguna jasa pasan antar makanan GoFood.
Branding ini pun kini marak ditandai dengan adanya banner di
restoran yang berada di naungan GoFood.
ii.
Quality
Kualitas yang ditawarkan GoFood dapat
dilihat dari track record yang didapat oleh driver sebagai pengantar
jasa pesan antar makanan. Dari pihak restorannya pun, kulitas tersebut dapat
dilihat dari penilaian atau ulasan dari beberapa konsumen sebelumnya.
iii.
Design
Tampilan desain dari GoFood itu
sendiri sudah semakin user-friendly di mana setiap tata letak, ukuran
huruf, dan jenis hurud yang digunakan sangat mudah untuk dibaca dan dipahami
oleh pengguna.
iv.
Packaging
Dalam menampilkan pengemasannya, jasa pesan-antar
makanan GoFood biasanya dilengkapi
dengan tas alumunium berlabelkan GoFood untuk menjamin mutu dan kualitas
makanan yang dipesan oleh pelanggan.
v.
Feature
Fitur yang ditawarkan oleh aplikasi GoFood
ini cukup beragam seperti yang terlihat dalam aplikasi seperti
pengelompokkan makanan ke dalam beberapa kategori, contoh : Kategori Restoran Buka
24 Jam, Kategori Makanan Sehat, dll. Hal ini tentu bertujuan untuk memudahkan penggunanya
dalam menentukan pilihannya menurut rekomendasi GoFood yang berdasarkan
pada ulasan pengguna lainnya.
c. Augmented Product
Tingkatan
terakhir pada level of products ialah augmented product sebagai
penyempurna dari core value dan actual products, dengan
menawarkan layanan tambahan dan keuntungan bagi konsumen. Dalam hal ini, GoFood
pun tengah mengimplementasikannya ke dalam tahap-tahap berikut ini, di
antaranya :
i.
After Sales Service
Pada aspek ini, GoFood memfasilitasi
mitra restoran yang memiliki kerjasama untuk dapat mendapatkan penilaian dari
konsumen atau pelanggan melalui pemberian bintang atau rating setelah
pemesanan tersebut.
ii.
Warranty
GoFood sendiri tidak
terlalu mengimplementasikan aspek warranty dalam operasionalnya, dikarenakan
GoFood di sini berperan sebagai pihak ketiga di antara produsen (mitra
restoran) dengan pelanggannya. Namun, dalam operasionalnya, GoFood mencantumkan
estimasi makanan akan sampai pada tangan konsumen atau pelanggan.
iii.
Delivery
Di
sisi lain, jasa pesan antar makanan ini pun akan dinilai tingkat kepuasannya
berdasarkan pada beberapa aspek performa dari driver berikut dengan
ulasan dari beberapa aspek yang dminta, seperti yang terlihat pada gambar di
bawah ini.
REFERENSI :







Comments
Post a Comment